Thursday, August 18, 2011

The Boy & the Apple Tree

A long time ago, there was a huge apple tree. A little boy loved to come and play around it everyday. He climbed to the treetop, ate the apples, took a nap under the shadow…he loved the tree and the tree loved to play with him. Time went by the little boy had grown up and he no longer played around the tree every day.

One day, the boy came back to the tree and he looked sad. “Come and play with me” the tree asked the boy. “I am no longer a kid, I do not play around trees any more” the boy replied.

“I want toys. I need money to buy them.” “Sorry, but I do not have money… but you can pick all my apples and sell them. So, you will have money.” The boy was so excited. He grabbed all the apples on the tree and left happily. The boy never came back after he picked the apples. The tree was sad.

One day, the boy who now turned into a man returned and the tree was excited “Come and play with me” the tree said. “I do not have time to play. I have to work for my family. We need a house for shelter. Can you help me?” “ Sorry, but I do not have any house. But you can chop off my branches to build your house.” So the man cut all the branches of the tree and left happily. The tree was glad to see him happy but the man never came back since then. The tree was again lonely and sad.

One hot summer day, the man returned and the tree was delighted. “Come and play with me!” the tree said. “I am getting old. I want to go sailing to relax myself. Can you give me a boat?” said the man. “Use my trunk to build your boat. You can sail far away and be happy.” So the man cut the tree trunk to make a boat. He went sailing and never showed up for a long time.

Finally, the man returned after many years. “Sorry, my boy. But I do not have anything for you anymore. No more apples for you …” the tree said. “No problem, I do not have any teeth to bite” the man replied. “No more trunk for you to climb on” “I am too old for that now” the man said. “I really cannot give you anything… the only thing left is my dying roots” the tree said with tears. “I do not need much now, just a place to rest. I am tired after all these years” the man replied. “Good! Old tree roots are the best place to lean on and rest, Come, come sit down with me and rest.” The man sat down and the tree was glad and smiled with tears…

This is a story for everyone.The tree is like our parents. When we were young, we loved to play with our Mum and Dad…

When we grow up, we leave them…only come to them when we need something or when we are in trouble.

No matter what, parents will always be there and give everything they could just to make you happy.

You may think the boy is cruel to the tree, but that is how all of us treat our parents. We take them for granted we don’t appreciate all they do for us, UNTIL it’s too late. May Allah SWT forgive us of our shortcomings and may He Guide us inshaallah.

“And your Lord has decreed that you worship none but Him. And that you be dutiful to your parents. If one of them or both of them attain old age in your life, say not to them a word of disrespect, nor shout at them but address them in terms of honour. And lower unto them the wing of submission and humility through mercy, and say: ‘My Lord! Bestow on them Your Mercy as they did bring me up when I was small.’ ” [Al-Qur’an 17:23-24]

Tuesday, August 16, 2011

Benarkah Tentara Dajjal Telah Muncul?

Benarkah bala tentara Dajjal telah muncul? Pertanyaan ini mencuat ketika Israel memperkenalkan “Kfir” yang merupakan brigade elit Israeli Defenses Force (IDF).

Brigade ini dibentuk sebagai “900th Brigade” atau Brigade ke-900, yang masuk dalam unit paling elit satuan infanteri IDF di bawah Kementerian Pertahanan Israel.

Brigade Kfir berada di bawah komando Divisi 162 (Utzvat Haplada). Nama asli Brigade tersebut adalah “KFR”, karena sistem huruf Ibrani tidak mengenal huruf hidup.

Pasukan ini juga merupakan kesatuan anti teroris yang paling efektif di negara Israel. Bukan itu saja, perusahaan penerbangan Israel bernama IAI yang bekerja sama dengan agen pemerinta juga telah meluncurkan pesawat tempurnya yang diberi nama Kfir.

http://pandaankota.files.wordpress.com/2009/11/0931939.jpg

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ciri-ciri fisik Dajal, selain bermata satu, di jidatnya juga ada aksara Arab “Ka Fa Ra” atau Kafir.

Kafir berarti “Tidak mempercayai”. Dajjal dan para pengikutnya memang tidak percaya pada Allah Swt, karena mereka lebih percaya pada Iblis atau Lucifer.

Di hadist lain, Rasul juga mengatakan bahwa Dajjal akan memimpin pasukan yang berjumlah 70,000 pasukan. Dan di hadist lainnya pula disebutkan bahwa Dajjal hanya memiliki satu buah mata. Coba perhatikan gambar di bawah ini :

http://pandaankota.files.wordpress.com/2009/11/csyd_kfir_01.jpg

Jadi benarkah pasukan Dajjal telah muncul? Benarkah kiamat semakin dekat? Hanya Allah yang tahu.

sumber: terselubung.blogspot.com

6 Kesempurnaan Dalam Puasa Ramadhan

- Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah. ” HR.’Al-Bukhari dan Muslim)

- “Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang ” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya)
Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati, untuk itu hendaknya Anda telah berhenti dari makan dan minum beberapa menit sebelum terbit fajar, agar Anda tidak ragu-ragu.

- Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . ” (HR. Al-Bukhari, I\luslim dan At-Tirmidz)

- Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.
Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur’anul Karim. Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur’an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.

- Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa tidak meninggalkan pevkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)

- Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan Anda hadapi dia dengan perbuatan serupa. Nasihati dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kama beupuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa” (HR. Al- Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan)

sumber: terselubung.blogspot.com

Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala nitu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah
kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru
sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan
kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi.


Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya."Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.

Sumber: terselubung.blogspot.com

Thursday, August 11, 2011

:)

“Education is our passport to the future, for tomorrow belongs to the people who prepare for it today” - Malcolm X

:)

There is a gate to Paradise that is called ar-Rayyan. On the Day of Resurrection it will say: ‘Where are those who fasted?’ When the last [one] has passed through the gate, it will be locked.

-Ahmed Ibn Hanbal (RA)

Hadits


There is a gate to Paradise that is called ar-Rayyan. On the Day of Resurrection it will say: ‘Where are those who fasted?’ When the last [one] has passed through the gate, it will be locked.

-Prophet Muhammad عليه السلام [Bukhari and Muslim]

Forgiveness in Ramadan

The Prophet Muhammad  said: Musa, the son of Imran once asked, “Oh my Lord! Who is the most honorable of Your servants? And He replied, the person who forgives even when he is in a position of power” (Baihaqi).
You know you’re right. You know what I’m referring to - those times when you get into an argument(s) with a family member, friend, boss, employee, coworker, classmate, teacher or whoever. You know your facts are right or that you’ve been wronged with an insulting remark, sarcastic comment or rudeness.
And so, you choose to hold a grudge. After all, you’ve got a right to. Nobody should be treated this way. Why should you forgive? You’re not the one who started this. You’re not the one who doesn’t have the facts straight.
True. You may be right. You may be in that position of power mentioned in the Hadith above. But forgiving others, apart from positively affecting our health(less stress) and our minds (one less negative thing to focus on), is a necessary step to closeness to Allah SWT.
How can we move up the ladder of spiritual development when we hold bitterness and anger towards another person? While we may have been in the right, is it worth sacrificing our energy on a grudge instead of on growth?
Is there not something strange about asking for Allah’s forgiveness of our sins while withholding our forgiveness from someone who has hurt us? 
One of the distinguishing features of Ramadan is forgiveness. The Prophet explained in one Hadith that Ramadan is a month whose beginning is Mercy, whose middle is Forgiveness and whose end is freedom from the Hellfire.
This makes it a great time to ask Allah SWT for His Forgiveness. It’s also a wonderful time to open our hearts and cleanse them of grudges and bitterness by forgiving others.
The path to connection to Allah SWT is always paved with tests and difficulties. Nobody gains spiritual upliftment without having to prove their mettle. This process includes facing all kinds of hardships, including injustice at the hands of others.
If we truly want Allah’s love, mercy and forgiveness, we must remember that the hurts of this world are temporary, and we are working towards that which is permanent. Is it worth being bitter and stunting our growth? Will it really benefit us? How will our anger and bitterness change the person who has hurt us?
Let us use these remaining days of forgiveness this Ramadan to open our hearts to those who have wronged us and forgive them as we beg Allah to forgive us. 
Let us use these remaining days of Ramadan to open our hearts to those who have wronged us and forgive them as we beg Allah SWT to forgive us. Aameen.

source: islamicthinking.tumblr.com